Assalamu'alaikum
Warahmatullah Hiwabarakatuh
Selamat datang dan selamat bergabung yang baru saja singgah, terima kasih yang selalu setia datang kembali untuk membaca. Seperti biasa laporan kali ini masih seputar tentang giat laporan bacaan terkait tugas mata kuliah Magang 1, yang diampu oleh Ibu dosen Farninda Aditya, M.Pd. selaku dosen di Institut IAIN Pontianak, Kalimantan Barat.
Materi yang akan di ulas kali ini yaitu
mengenai “Karakteristik Peserta Didik”
membaca kata peserta didik mengenai karakteristiknya membuka pikiran kita
langsung tertuju dengan berbagai ragam atau pola peserta didik yang tentunya
berbeda-beda. Nah untuk memudahkan kita sebagai calon pendidik dalam memahami pesert didik maka alangkah lebih
baiknya jika kita mengetahui, apa saja karakterisrik pada peserta didik? Bagaimana
macam-macamnya? dan masih banyak hal lainnya yang berhubungan dengan peserta
didik, yang perlu diketahui bagi calon-calon pendidik agar dapat mempermudah
proses tujuan pendidikan yang berhasil.
“Karakteristik
Peserta Didik”
Karakter (character) mengacu pada
serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivasitions),
dan keterampilan (skills). Karakter meliputi sikap seperti keinginan
untuk melakukan hal yang terbaik, kapasitas intelektual seperti berpikir kritis
dan alasan moral, perilaku jujur dan bertanggung jawab, mempertahankan
prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidakadilan, kecakapan
interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara
efektif dalam berbagai situasi, dan komitmen untuk berkontribusi dengan
komunitas dan masyarakatnya. Karakteristik adalah realisasi perkembangan
positif sebagai individu (intelektual social, emosional, dan
etika). Individu yang berkarakter baik adalah seseorang yang berusaha
melakukan hal yang terbaik (Battishtich, 2007: 7)
Karakter menurut Alwisol (2006: 8)
diartikan sebagai gambaran tentang tingkah laku yang menonjolkan nilai
benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter
berbeda dengan kepribadian, karena pengertian kepribadian dibebaskan dari
nilai. Meski demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter
berwujud tingkah laku yang ditunjukkan ke lingkungan sosial. Keduanya relatif
permanen serta menuntun, mengarahkan dan mengorganisasikan aktivitas individu.
Jadi istilah karakter berkenaan
dengan personality (kepribadian) seseorang. Seseorang bisa
disebut orang berkarakter (a person of character) apabila perilakunya
sesuai dengan kaidah moral.
Peserta didik merupakan orang yang mendapatkan pengaruh dari berbagai kelompok yang sedang melaksanakan pendidikan. Peserta didik merupakan unsur yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Karena peserta didik dijadikan sebagai titik persoalan dalam berbagai aktifitas kegiatan belajar mengajar. Dalam aspek psikologis, peserta didik merupakan titik penentu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan baik dalam artian bentuk fisik maupun psikis. Namun, peserta didik juga berhak mendapatkan bimbingan yang terarah dan konsisten dalam menentukan kemampuan yang sebenarnya. Peserta didik disebut sebagai insan yang menarik. Karena memiliki fisik dan psikis yang unik. Berbagai potensi yang dimiliki oleh peserta didik masih memerlukan perkembangan guna mencapai kebutuhan untuk perkembangan yang sangat optimal.
Kemampuan yang dimiliki oleh setiap peserta didik merupakan tonggak untuk memilih strategi pembelajaran yang cocok. Kemampuan peserta didik yang dijadikan sebagai kemampuan awal atau tonggak ini berperan untuk meningkatkan pelaksanaan pembelajaran. Hal ini menyebabkan perubahan besar yang membantu memudahkan proses internal yang terjadi pada peserta didik pada saat meraka melakukan kegiatan belajar
Karakteristik Peserta Didik
Menurut Reigeluth (1993) mengungkapkan
bahwa karakteristik peserta didik terbagi menjadi empat yakni antara lain :
- Pengetahuan
Pengetahuan merupakan suatu intelektual yang dimiliki oleh peserta didik. Pengetahuan inilah yang disebut dengan intelegensi siswa yang harus tetap dipertahankan untuk kemampuan peserta didik.
Menurut Reigeluth (dalam Degeng, 1999) pengetahuan peserta didik diidentifikasi menjadi tujuh jenis yang termasuk kedalam kemampuan awal peserta didik. Kemampuan awal peserta didik ini antara lain:
a) Arbitrarily
meaningfull knowledge (pengetahuan bermakna tak terorganisasi).
Pengetahuan ini merupakan tempat untuk
mengaitkan suatu kemampuan menghafal. Hafalan dalam hal ini merupakan hafalan
yang tidak terlalu penting. Namun masih memiliki makna penting bagi pengetahuan
peserta didik. Sehingga hafalannya hanya untuk memudahkan retensi.
b) Analogic
knowledge (pengetahuan analogis)
Pengetahuan seperti ini merupakan
pengetahuan baru yang mengaitkan pengetahuan dengan kemampuan peserta didik
maupun pengetahuan baru yang masih sama dan serupa serta berada di luar topik
atau isi yang sedang dibacarakan.
c) Superordinate
knowledge (pengetahuan tingkat yang lebih tinggi)
Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi ini
merupakan pengetahuan yang memiliki tingkat yang berada diatas analogic
knowledge. Jadi dalam hal ini pengetahuan tingkat lebih tinggi dapat berfungsi
sebagai tonggak atau kerangka bagi pengetahuan yang baru.
d) Coordinate
knowledge (pengetahuan setingkat)
Pengetahuan setingkat ini merupakan
pengetahuan yang berfungsi sebagai pengetahuan yang komparatif.
e) Subordinate
knowledge (pengetahuan tingkat yang lebih rendah)
Pengetahuan tingkat yang lebih rendah ini
merupakan pengetahuan yang berfungsi untuk menyatakan kebenaran pengetahuan
baru yang sebenarnya. Sehingga dapat dibuktikan dengan memberikan
contoh-contohnya.
f) Experiential
knowlege (pengetahuan pengalaman)
Pengetahuan berdasarkan pengalaman ini
memiliki fungsi dan tujuan yang sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih
rendah. Pada pengetahuan pengalaman ini juga mengkonkritkan atau memberikan
fakta dengan menyediakan bukti contoh untuk pengetahuan baru.
2.
Cognitive strategy (strategi kognitif)
Strategi kognitif yang dimaksud ialah
suatu strategi yang menyediakan berbagai cara dalam mengolah pengetahuan baru.
Sehingga akan ada pemikiran ataupun pengungkapan kembali terhadap pengetahuan
yang telah tersimpan dalam memori ingatan.
- Gaya
Reigeluth mengidentifikasi gaya belajar
peserta didik menjadi tiga tipe yakni gaya belajar visual, gaya belajar
auditori, dan gaya belajar kinestetik. Gaya belajar pada peserta didik
merupakan suatu tipe dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar mereka.
Sehingga peserta didik akan selalu menggali potensinya dengan cara gaya belajar
mereka sendiri. Setiap peserta didik yang memiliki gaya belajar visual mereka
akan belajar memahami dengan apa yang mereka lihat. Sedangkan peserta didik
yang memiliki gaya belajar auditori lebih memahami pembelajaran dengan cara
mendengar apa yang mereka dengar. Sementara gaya belajar kinestetik memahami
dengan cara menggerakkan tubuhnya, entah itu sentuhan ataupun pada rabaan.
Namun dalam kenyataannya setiap peserta didik pasti memiliki ketiga gaya
belajar tersebut. Tetapi hanya salah satu yang mendominasi dalam gaya belajar
mereka. Mengenai tentang gaya belajar peserta didik juga dapat dilihat sebgai
berikut.
a)
Gaya belajar visual
Dalam gaya belajar visual yang terjadi
pada peserta didik dapat diketahui melalui ciri – ciri utama yakni dengan
menggunakan indera penglihatan. Reigeluth (1999) menjelaskan bahwa gaya belajar
dengan visual ini lebih suka berbicara cepat, suka mencoret-coret saat
menelpon, dan lebih suka melihat gambar peta beserta penjelasannya.pada umumnya
peserta didik dengan gaya visual ini biasanya menerapkan suatu strategi visual
yang sangat kuat dengan menyerap suatu informasi dengan ungkapan gambar.
Ciri-ciri gaya belajar visual yakni antara lain:
- Bicara
cepat
- Lebih
mementingkan penampilan
- Bersikap
rapi dan teratur
- Tidak
mudah terganggu bila ada keributan
- Lebih
suka membaca daripada dibacakan
- Lebih
suka mencorat coret meski bukan hal yang penting
- Lebih
suka mengingat wajah orang daripada mengingat namanya
b)
Gaya belajar auditorial
Bagi peserta didik yang memiliki gaya
belajar auditori dapt dikenal dan diketahui dengan ciri-ciri yang lebih dominan
yakni dengan menggunakan kekuatan indera pendengaran. Reigeluth (1993) menjelaskan
bahwa peserta didik yang memiliki gaya belajar auditori lebih suka berbicara
daripada membaca maupun menulis. Reigeluth (1999) juga menyatakan bahwa “aku
mendengar apa yang kau katakan”. Kecepatan dalam berbicara juga sedang. Pada
saat menyerap informasi umumnya orang bergaya belajar auditori juga menerapkan
adanya strategi pendengaran yang sangat kuat. Sehingga pendidik yakni guru juga
harus menerapkan pembelajaran yang memberikan suatu variasi pengajaran yang
dapat diterima dan dimengerti oleh peserta didik dengan gaya belajar auditori.
Ciri ciri gaya belajar auditorial yakni:
- Pada
saat bekerja suka berbicara kepada dirinya sendiri
- Merasa
terganggu bila ada keributan
- Kesulitan
dalam menulis maupun mengarang
- Lebih
suka bercerita
- Menyukai
lelucon dari lisan daripada dari komik
- Bila
berbicara dalam irama yang berpola
- Bila
berdiskusi selalu menggunakan kata kata yang panjang
- Selalu
mengulangi kata kata yang terlontar dan dapat menirukan nada pembicaraan
orang lain
- Lebih
suka mendengarkan musik
- Bila
berbicara dengan orang lain selalu memalingkan penglihatannya dan tidka
melakukan kontak mata saat berbicara dengan orang lain.
c)
Gaya belajar kinestetik
Reigeluth (1993) menjelaskan bahwa peserta
didik yang menggunakan gaya belajar kinestetik lebih suka menggerakkan anggota
tubuhnya saat berbicar dan sulit untuk diam. Pada umumnya peserta didik yang
menggunakan gaya belajar kinestetik memahami informasi dengan menggunakan
strategi fisik dan mampu berekspresi dengan fisik mereka. Adapun ciri-ciri yang
dapat melihat peserta didik dengan menggunakan gaya belajar kinestetik antara
lain:
- Berbicara
dengan perlahan
- Membutuhkan
waktu untuk berpikir dalam berbicara maupun dalam bertindak
- Penampilan
selalu rapi
- Tidak
mudah terganggu dengan keributan
- Bila
belajar selalu menggunakan praktek menghafal dengan berjalan
- Membuat
keputusan berdasarkan perasan
- Minat
Minat merupakan suatu hal yang berpengaruh
besar tehadap belajar peserta didik. Apabila materi pelajaran yang dipelajari
tidak sesuai dengan minat peserta didik maka, peserta didik akan bersemangat
dan tidak berambisi dalam mempelajarinya. Karena bagi mereka, tidak akan ada
daya tarik yang membuat mereka untuk berambisi dalam mempelajarinya. Sehingga
tidak akan ada kepuasan bagi peserta didik. Tapi jika materi pelajarannya
diminati dan dan menarik peserta didik maka akan menumbuhkan minat dan menambah
semangat terhadap kegitan pembelajaran. Peserta didik yang kurang meminati
materi pembelajaran, maka dapat diusahakan untuk mempunyai minat yang cukup
besar dengan cara menjelaskan menggunakan metode yang menarik dan hal yang
berguna bagi peserta didik. Serta dapat dilakukan dengan mendongkrak semngat
peserta didik untuk menjelaskan materi yang berhubungan dengan cita-cita yang
berkaitan dengan materi pelajaran yang akan dipelajari.
- Motivasi
belajar
Motivasi dalam proses pembelajaran sangat
diperlukan. Karena pendidik harus mampu mendorong dan mendongkrak peserta didik
agar dapat belajar dengan tekun dan bersemangat dalam merencanakan maupun
melaksanakan sesuatu yang selalu ada hubungannya dengan kegiatan belajar.
Menurut Reigeluth (dalam Degeng, 1999) motivasi dapat dibedakan menjadi dua
macam yakni:
- Motivasi
intrinsik
Motivasi intrinsik merupakan hal yang
berasal dari dalam diri peserta didik sendiri yang dapat mendorong untuk
melakukan tindakan belajar. Motivasi intrinsik merupakan suatu kesenangan
materi yang menyangkut tentang kehidupan masa depan peserta didik sendiri.
- Motivasi
ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik merupakan suatu motivasi yang datang dari luar individu peserta didik yang dapat mendorong untuk tekun belajar. Adanya hadiah maupun pujian merupakan contoh yang konkrit pada motivasi ekstrinsik yang dapat mendongkrak peserta didik untuk belajar. Tidak adanya motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik dapat berpengaruh terhadap kurang bersemangatnya dalam melakukan proses mempelajari materi pelajaran baik di sekolah maupun di rumah.
Semoga dengan adanya penjelasan diatas, dapat menambah khazanah serta ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Jazakumullah Khairan
Katsiran
Terima kasih banyak atas kunjungannya
Sumber Referensi:
http://yunitaikamujianti.web.unej.ac.id/2017/09/20/karakteristik-peserta-didik/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar