Minggu, 30 Mei 2021

Laporan Bacaan 5

 

Assalamu'alaikum Warahmatullah Hiwabarakatuh

Selamat datang dan selamat bergabung yang baru saja singgah, terima kasih yang selalu  setia datang kembali untuk membaca. Seperti biasa laporan kali ini masih seputar tentang giat laporan bacaan terkait tugas mata kuliah Magang 1, yang diampu oleh Ibu dosen Farninda Aditya, M.Pd. selaku dosen di Institut IAIN Pontianak, Kalimantan Barat.

Materi yang akan di ulas kali ini yaitu mengenai  “Karakteristik Peserta Didik” membaca kata peserta didik mengenai karakteristiknya membuka pikiran kita langsung tertuju dengan berbagai ragam atau pola peserta didik yang tentunya berbeda-beda. Nah untuk memudahkan kita sebagai calon pendidik dalam  memahami pesert didik maka alangkah lebih baiknya jika kita mengetahui, apa saja karakterisrik pada peserta didik? Bagaimana macam-macamnya? dan masih banyak hal lainnya yang berhubungan dengan peserta didik, yang perlu diketahui bagi calon-calon pendidik agar dapat mempermudah proses tujuan pendidikan yang berhasil.

 

“Karakteristik Peserta Didik”

 

Karakter (character) mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivasitions), dan keterampilan (skills). Karakter meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan hal yang terbaik, kapasitas intelektual seperti berpikir kritis dan alasan moral, perilaku jujur dan bertanggung jawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidakadilan, kecakapan interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi, dan komitmen untuk berkontribusi dengan komunitas dan masyarakatnya. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual social, emosional, dan etika). Individu yang berkarakter baik adalah seseorang yang berusaha melakukan hal yang terbaik (Battishtich, 2007: 7)

Karakter menurut Alwisol (2006: 8) diartikan sebagai gambaran tentang tingkah laku yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian, karena pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai. Meski demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter berwujud tingkah laku yang ditunjukkan ke lingkungan sosial. Keduanya relatif permanen serta menuntun, mengarahkan dan mengorganisasikan aktivitas individu.

Jadi istilah karakter berkenaan dengan personality (kepribadian) seseorang. Seseorang bisa disebut orang berkarakter (a person of character) apabila perilakunya sesuai dengan kaidah moral.

Peserta didik merupakan orang yang mendapatkan pengaruh dari berbagai kelompok yang sedang melaksanakan pendidikan. Peserta didik merupakan unsur yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Karena peserta didik dijadikan sebagai titik persoalan dalam berbagai aktifitas kegiatan belajar mengajar. Dalam aspek psikologis, peserta didik merupakan titik penentu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan baik dalam artian bentuk fisik maupun psikis. Namun, peserta didik juga berhak mendapatkan bimbingan yang terarah dan konsisten dalam menentukan kemampuan yang sebenarnya. Peserta didik disebut sebagai insan yang menarik. Karena memiliki fisik dan psikis yang unik. Berbagai potensi yang dimiliki oleh peserta didik masih memerlukan perkembangan guna mencapai kebutuhan untuk perkembangan yang sangat optimal.

Kemampuan yang dimiliki oleh setiap peserta didik merupakan tonggak untuk memilih strategi pembelajaran yang cocok. Kemampuan peserta didik yang dijadikan sebagai kemampuan awal atau tonggak ini berperan untuk meningkatkan pelaksanaan pembelajaran. Hal ini menyebabkan perubahan besar yang membantu memudahkan proses internal yang terjadi pada peserta didik pada saat meraka melakukan kegiatan belajar

Karakteristik Peserta Didik

Menurut Reigeluth (1993) mengungkapkan bahwa karakteristik peserta didik terbagi menjadi empat yakni antara lain :


  1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan suatu intelektual yang dimiliki oleh peserta didik. Pengetahuan inilah yang disebut dengan intelegensi siswa yang harus tetap dipertahankan untuk kemampuan peserta didik. 

Menurut Reigeluth (dalam Degeng, 1999) pengetahuan peserta didik diidentifikasi menjadi tujuh jenis yang termasuk kedalam kemampuan awal peserta didik. Kemampuan awal peserta didik ini antara lain:


a)      Arbitrarily meaningfull knowledge (pengetahuan bermakna tak terorganisasi).

Pengetahuan ini merupakan tempat untuk mengaitkan suatu kemampuan menghafal. Hafalan dalam hal ini merupakan hafalan yang tidak terlalu penting. Namun masih memiliki makna penting bagi pengetahuan peserta didik. Sehingga hafalannya hanya untuk memudahkan retensi.


b)      Analogic knowledge (pengetahuan analogis)

Pengetahuan seperti ini merupakan pengetahuan baru yang mengaitkan pengetahuan dengan kemampuan peserta didik maupun pengetahuan baru yang masih sama dan serupa serta berada di luar topik atau isi yang sedang dibacarakan.


c)      Superordinate knowledge (pengetahuan tingkat yang lebih tinggi)

Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi ini merupakan pengetahuan yang memiliki tingkat yang berada diatas analogic knowledge. Jadi dalam hal ini pengetahuan tingkat lebih tinggi dapat berfungsi sebagai tonggak atau kerangka bagi pengetahuan yang baru.


d)      Coordinate knowledge (pengetahuan setingkat)

Pengetahuan setingkat ini merupakan pengetahuan yang berfungsi sebagai pengetahuan yang komparatif.


e)      Subordinate knowledge (pengetahuan tingkat yang lebih rendah)

Pengetahuan tingkat yang lebih rendah ini merupakan pengetahuan yang berfungsi untuk menyatakan kebenaran pengetahuan baru yang sebenarnya. Sehingga dapat dibuktikan dengan memberikan contoh-contohnya.


f)       Experiential knowlege (pengetahuan pengalaman)

Pengetahuan berdasarkan pengalaman ini memiliki fungsi dan tujuan yang sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah. Pada pengetahuan pengalaman ini juga mengkonkritkan atau memberikan fakta dengan menyediakan bukti contoh untuk pengetahuan baru.

 

2.      Cognitive strategy (strategi kognitif)

Strategi kognitif yang dimaksud ialah suatu strategi yang menyediakan berbagai cara dalam mengolah pengetahuan baru. Sehingga akan ada pemikiran ataupun pengungkapan kembali terhadap pengetahuan yang telah tersimpan dalam memori ingatan.

 

  1. Gaya

Reigeluth mengidentifikasi gaya belajar peserta didik menjadi tiga tipe yakni gaya belajar visual, gaya belajar auditori, dan gaya belajar kinestetik. Gaya belajar pada peserta didik merupakan suatu tipe dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar mereka. Sehingga peserta didik akan selalu menggali potensinya dengan cara gaya belajar mereka sendiri. Setiap peserta didik yang memiliki gaya belajar visual mereka akan belajar memahami dengan apa yang mereka lihat. Sedangkan peserta didik yang memiliki gaya belajar auditori lebih memahami pembelajaran dengan cara mendengar apa yang mereka dengar. Sementara gaya belajar kinestetik memahami dengan cara menggerakkan tubuhnya, entah itu sentuhan ataupun pada rabaan. Namun dalam kenyataannya setiap peserta didik pasti memiliki ketiga gaya belajar tersebut. Tetapi hanya salah satu yang mendominasi dalam gaya belajar mereka. Mengenai tentang gaya belajar peserta didik juga dapat dilihat sebgai berikut.


a)      Gaya belajar visual

Dalam gaya belajar visual yang terjadi pada peserta didik dapat diketahui melalui ciri – ciri utama yakni dengan menggunakan indera penglihatan. Reigeluth (1999) menjelaskan bahwa gaya belajar dengan visual ini lebih suka berbicara cepat, suka mencoret-coret saat menelpon, dan lebih suka melihat gambar peta beserta penjelasannya.pada umumnya peserta didik dengan gaya visual ini biasanya menerapkan suatu strategi visual yang sangat kuat dengan menyerap suatu informasi dengan ungkapan gambar. Ciri-ciri gaya belajar visual yakni antara lain:


  1. Bicara cepat
  2. Lebih mementingkan penampilan
  3. Bersikap rapi dan teratur
  4. Tidak mudah terganggu bila ada keributan
  5. Lebih suka membaca daripada dibacakan
  6. Lebih suka mencorat coret meski bukan hal yang penting
  7. Lebih suka mengingat wajah orang daripada mengingat namanya

 

b)      Gaya belajar auditorial

Bagi peserta didik yang memiliki gaya belajar auditori dapt dikenal dan diketahui dengan ciri-ciri yang lebih dominan yakni dengan menggunakan kekuatan indera pendengaran. Reigeluth (1993) menjelaskan bahwa peserta didik yang memiliki gaya belajar auditori lebih suka berbicara daripada membaca maupun menulis. Reigeluth (1999) juga menyatakan bahwa “aku mendengar apa yang kau katakan”. Kecepatan dalam berbicara juga sedang. Pada saat menyerap informasi umumnya orang bergaya belajar auditori juga menerapkan adanya strategi pendengaran yang sangat kuat. Sehingga pendidik yakni guru juga harus menerapkan pembelajaran yang memberikan suatu variasi pengajaran yang dapat diterima dan dimengerti oleh peserta didik dengan gaya belajar auditori. Ciri ciri gaya belajar auditorial yakni:


  1. Pada saat bekerja suka berbicara kepada dirinya sendiri
  2. Merasa terganggu bila ada keributan
  3. Kesulitan dalam menulis maupun mengarang
  4. Lebih suka bercerita
  5. Menyukai lelucon dari lisan daripada dari komik
  6. Bila berbicara dalam irama yang berpola
  7. Bila berdiskusi selalu menggunakan kata kata yang panjang
  8. Selalu mengulangi kata kata yang terlontar dan dapat menirukan nada pembicaraan orang lain
  9. Lebih suka mendengarkan musik
  10. Bila berbicara dengan orang lain selalu memalingkan penglihatannya dan tidka melakukan kontak mata saat berbicara dengan orang lain.

 

c)      Gaya belajar kinestetik

Reigeluth (1993) menjelaskan bahwa peserta didik yang menggunakan gaya belajar kinestetik lebih suka menggerakkan anggota tubuhnya saat berbicar dan sulit untuk diam. Pada umumnya peserta didik yang menggunakan gaya belajar kinestetik memahami informasi dengan menggunakan strategi fisik dan mampu berekspresi dengan fisik mereka. Adapun ciri-ciri yang dapat melihat peserta didik dengan menggunakan gaya belajar kinestetik antara lain:

  1. Berbicara dengan perlahan
  2. Membutuhkan waktu untuk berpikir dalam berbicara maupun dalam bertindak
  3. Penampilan selalu rapi
  4. Tidak mudah terganggu dengan keributan
  5. Bila belajar selalu menggunakan praktek menghafal dengan berjalan
  6. Membuat keputusan berdasarkan perasan
  7. Minat

Minat merupakan suatu hal yang berpengaruh besar tehadap belajar peserta didik. Apabila materi pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat peserta didik maka, peserta didik akan bersemangat dan tidak berambisi dalam mempelajarinya. Karena bagi mereka, tidak akan ada daya tarik yang membuat mereka untuk berambisi dalam mempelajarinya. Sehingga tidak akan ada kepuasan bagi peserta didik. Tapi jika materi pelajarannya diminati dan dan menarik peserta didik maka akan menumbuhkan minat dan menambah semangat terhadap kegitan pembelajaran. Peserta didik yang kurang meminati materi pembelajaran, maka dapat diusahakan untuk mempunyai minat yang cukup besar dengan cara menjelaskan menggunakan metode yang menarik dan hal yang berguna bagi peserta didik. Serta dapat dilakukan dengan mendongkrak semngat peserta didik untuk menjelaskan materi yang berhubungan dengan cita-cita yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan dipelajari.

 

  1. Motivasi belajar

Motivasi dalam proses pembelajaran sangat diperlukan. Karena pendidik harus mampu mendorong dan mendongkrak peserta didik agar dapat belajar dengan tekun dan bersemangat dalam merencanakan maupun melaksanakan sesuatu yang selalu ada hubungannya dengan kegiatan belajar. Menurut Reigeluth (dalam Degeng, 1999) motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yakni:

 

  • Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik merupakan hal yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri yang dapat mendorong untuk melakukan tindakan belajar. Motivasi intrinsik merupakan suatu kesenangan materi yang menyangkut tentang kehidupan masa depan peserta didik sendiri.

 

  • Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik merupakan suatu motivasi yang datang dari luar individu peserta didik yang dapat mendorong untuk tekun belajar. Adanya hadiah maupun pujian merupakan contoh yang konkrit pada motivasi ekstrinsik yang dapat mendongkrak peserta didik untuk belajar. Tidak adanya motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik dapat berpengaruh terhadap kurang bersemangatnya dalam melakukan proses mempelajari materi pelajaran baik di sekolah maupun di rumah.

Semoga dengan adanya penjelasan diatas,  dapat menambah khazanah serta ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Jazakumullah Khairan Katsiran

Terima kasih banyak atas kunjungannya


Sumber Referensi:

http://yunitaikamujianti.web.unej.ac.id/2017/09/20/karakteristik-peserta-didik/

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Laporan Bacaan 10

Assalamu'alaikum Warahmatullah Hiwabarakatuh Selamat datang dan selamat bergabung yang baru saja singgah, terima kasih yang selalu   s...