Assalammualaikum Warahmatullah Hibarakatuh
Selamat datang di blog ini๐๐๐
Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga kita semua selalu sehat dan selalu berada didalam lindungan Allah SWT. Aamiin Allahuma Aamin.... Hayoolohh Ayoo kita Aamiinkan bersama
Nah untuk postingan kali ini, saya kembali akan membuat laporan bacaan terkait tugas mata kuliah Magang 1 yang diampu oleh Ibu Farninda Aditya M.Pd. Untuk laporan kali ini pastinya akan beda topik bahasan dengan postingan saya yang minggu lalu,,, bagi teman-teman yang belum singgah dan penasaran topik apa sih yang dilaporkan pada bacaan mingggu lalu, teman-teman bisa langsung buka tautan ini https://inmystorie.blogspot.com/2021/04/laporanbacaan.html
Baiklah tanpa berlama-lama lagi, laporan bacaan saya untuk mingu ini membahas tentang
"Kultur Sekolah" Tentang apasih itu Kultur Sekolah??? dan nilai apa saja yang terdapat di dalam Kultur Sekolah??? mari bersama kita simak ulasan laporannya....
Silahkan membaca dengan seksama dan mohon maaf apabila terdapat kalimat yang salah
Happy Reading.....
Laporan Bacaan
Apa sih Budaya Sekolah itu?
Willard Waller dalam (Peterson dan Deal, 2009: 8) menyatakan, setiap sekolah mempunyai budayanya sendiri, yang berupa serangkaian nilai, norma, aturan moral, dan kebiasaan, yang telah membentuk 3 perilaku dan hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya. Sementara itu, Short dan Greer (1997) mendefinisikan budaya sekolah sebagai keyakinan, kebijakan, norma, dan kebiasaan di dalam sekolah yang dapat dibentuk, diperkuat, dan dipelihara melalui pimpinan dan guru-guru di sekolah. Budaya sekolah, dengan demikian, merupakan konteks di belakang layar sekolah yang menunjukkan keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan yang telah dibangun dalam waktu yang lama oleh semua warga dalam kerja sama di sekolah. Budaya sekolah berpengaruh tidak hanya pada kegiatan warga sekolah, tetapi juga motivasi dan semangatnya.
Tentu dan sudah pasti setiap orang tua/wali memasukan anak-anak mereka ke suatu sekolah pada umumnya karena mempertimbangkan dan memperhatikan budaya yang telah tertanam di sekolah-sekolah tersebut. Para siswa pun dapat dengan cepat merasakan budaya sekolahnya karena mereka menjadi bagian dari lingkungan sekolah tersebut. Mereka pun mengetahui dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk, sesuai dengan nilai, norma, dan kebiasaan yang telah berlaku di lingkungan sekolahnya.
Pada mulanya budaya sekolah itu dibentuk dalam jaringan yang sifatnya formal. Serangkaian nilai, norma, dan aturan ditentukan dan ditetapkan pihak sekolah sebagai panduan bagi warga sekolah dalam berfikir, bersikap, dan bertindak. Dalam perkembangannya, secara perlahan budaya sekolah ini akan tertanam melalui jaringan kultural yang informal, karena sudah menjadi trade mark sekolah yang bersangkutan. Siapa pun yang masuk ke dalam wilayah sekolah, mereka akan menyesuaikan diri dengan budaya yang berlaku di dalamnya. Kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa pada umumnya banyak berperan dalam jaringan ini. Hampir semua sekolah memiliki serangkaian atau seperangkat keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan yang menjadi ciri khasnya dan senantiasa 4 disosialisasikan dan ditransmisikan melalui berbagai media. Dengan berjalannya waktu, proses tersebut telah membentuk suatu iklim budaya tertentu dalam lingkungan sekolah. Iklim tersebut secara langsung menggambarkan perasaan-perasaan, dan pengalaman-pengalaman moral yang ada di sekolah. Budaya sekolah sekali lagi menunjukkan kompleksitas unsur keyakinan, nilai, norma, kebiasaan, bahasa, dan tujuan-tujuan apa pun yang lebih baik. Budaya sekolah berada pada unsur yang lebih dalam dari sekolah.
Budaya merupakan jaringan yang kuat, yang meliputi keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan yang memengaruhi setiap sudut kehidupan sekolah. Budaya sekolah menyebabkan seseorang memberikan perhatian yang khusus, menyebabkan mereka mengidentifikasikan dirinya dengan sekolah (komitmen), memberikan motivasi kepada mereka untuk bekerja keras, dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan sekolah.
Budaya sekolah juga telah meningkatkan bahkan mempertajam perhatian dan perilaku sehari-hari warga sekolah terhadap apa yang penting dan bernilai bagi sekolah. Perhatian tersebut dapat dilihat pada semua kegiatan yang menjadi program dan prioritas sekolah. Apabila yang perlu diperkuat adalah berkaitan dengan prestasi akademik siswa misalnya, sekolah secara penuh mengarahkan perhatiannya pada hal tersebut. Sekolah dengan sendirinya merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan peningkatan kualitas akademik tersebut.
Menurut Nusyam (2011) menyatakan bahwa setidaknya, ada tiga budaya yang perlu dikembangkan di sekolah, yaitu kultur akademik, kultur budaya, dan kultur demokratis. Ketiga kultur ini harus menjadi prioritas yang melekat dalam lingkungan sekolah.
- Pertama, yaitu kultur akademik. Kultur akademik memiliki ciri pada setiap tindakan, keputusan, kebijakan, dan opini didukung dengan dasar akademik yang kuat. Artinya merujuk pada teori, dasar hukum, dan nilai kebenaran yang teruji, bukan pada popularitas semata atau sangkaan yang tidak memiliki dasar empirik yang kuat. Ini berbeda dengan kultur politik atau dunia entertainment. Dengan demikian, kepala sekolah, guru, dan siswa selalu berpegang pada pijakan teoretik dalam berpikir, bersikap dan bertindak dalam kesehariannya. Kultur akademik tercermin pada kedisiplinan dalam bertindak, kearifan dalam bersikap, serta kepiawaian dalam berpikir dan berargumentasi.
- Kedua, kultur budaya. Yaitu, Kultur budaya tercermin pada pengembangan sekolah yang memelihara, membangun, dan mengembangkan budaya bangsa yang positif dalam kerangka pembangunan manusia seutuhnya. Sekolah akan menjadi benteng pertahanan terkikisnya budaya akibat gencarnya serangan budaya asing yang tidak relevan seperti budaya hedonisme, individualisme, dan materialisme. Jika dunia luar melalui entertainment dan advertisement sangat gencar menawarkan konsumerisme dan materialisme semata, sekolah secara konsisten dan persisten menanamkan nilainilai transendental rela berkorban dan ikhlas beramal. Di sisi lain sekolah terus mengembangkan seni tradisi yang berakar pada budaya nusantara yang dikreasi untuk dikemas dengan modernitas dengan tetap mempertahankan keasliannya.
- Ketiga, yaitu kultur demokratis. Kultur demokratis menampilkan corak berkehidupan yang mengakomodasi perbedaan untuk secara bersama membangun kemajuan. Kultur ini jauh dari pola tindakan disksriminatif dan otoritarianisme serta sikap mengabdi atasan secara membabi buta. Warga sekolah selalu bertindak objektif, transparan, dan bertanggungjawab.
- a. Keputusan yang baik; kemampuan untuk membuat keputusan yang masuk akal (good judgment).
- b. Memiliki pengetahuan dan kemampuan mengenai bagaimana caranya mempraktikkan nilai-nilai kebaikan.
- c. Memiliki kemampuan untuk menentukan skala prioritas dalam hidup (ability to set priorities).
- a. Kejujuran (fairness, mengikuti aturan).
- b. Rasa hormat (respect).
- c. Bertanggungjawab (responsibility).
- d. Tulus (honesty).
- e. Kesopanan (Courtesy/civility).
- f. Toleransi (tolerance).
- a. Keberanian (courage).
- b. Elastisitas, daya lenting (resilience).
- c. Kesabaran (patience).
- d. Kegigihan, ketabahan hati (perseverance).
- e. Daya tahan, kesabaran (endurance).
- f. Percaya-diri (self-confidence).
- a. Disiplin-diri (self-discipline).
- b. Kemampuan untuk mengelola emosi dan dorongan diri.
- c. Kemampuan untuk menunda kesenangan (to delay gratification) atau tidak cepat puas diri.
- d. Kemampuan untuk melawan atau tahan terhadap godaan (to resist temptation).
- e. Moderat (moderation).
- f. Kemampuan menjaga kecenderungan seksnya (sexual self-control).
- a. Mengenali pikiran, perasaan, dan sikap orang lain (empathy).
- b. Memiliki rasa iba (compassion).
- c. Ramah dan penuh kasih sayang (kindness).
- d. Murah hati (generosity).
- e. Mudah menolong atau membantu (service).
- f. Setia (loyalty).
- g. Cinta tanah air (patriotism).
- h. Pemaaf (forgiveness).
- a. Penuh harapan (hope).
- b. Bersemangat (enthusiasm).
- c. Lentur, dapat berubah dengan mudah (flexibility).
- d. Memiliki rasa humor (sense of humor).
- a. Memiliki prakarsa (initiative).
- b. Tekun atau rajin (diligence).
- c. Penetapan atau perencanaan yang matang (good-setting).
- d. Kecerdikan atau kecerdasan (resourcefulness).
- a. Mengikuti prinsip-prinsip moral (adhering to moral principle).
- b. Kesetiaan terhadap kata-hati (faithfulness to a correctly formed conscience).
- c. Menjaga perkataan atau satunya kata dan perbuatan (keeping one's word).
- d. Konsisten secara etik (ethical consistency).
- e. Tulus atau Ihlas (being honest with oneself).
- a. Kebiasaan berterima kasih (the habit of being thankfull; appreciating one's blessings).
- b. Kemampuan menghargai orang lain (acknowledging one's debts to others).
- c. Tidak suka komplain (not complaining) atau tidak mudah menuduh.
- a. Sadar-diri atau tahu diri (self-awarness).
- b. Mau mengakui kesalahan dan bertanggung jawab (willingness to mistakes and responsibility to them).
- c. Keinginan untuk menjadi lebih baik (the desire to become a better person).
Demikianlah pembahasan mengenai Kultur Sekolah berbasis terwujudnya budaya sekolah baik. Semoga dengan adanya penjelasan tersebut, dapat menambah kazanah wawasan serta pengetahuan bagi kita semua.
Jazakumullah Khairan Katsiran
Terima kasih banyak atas kunjungannya....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar