Jumat, 02 Juli 2021

Laporan Bacaan 10

Assalamu'alaikum Warahmatullah Hiwabarakatuh

Selamat datang dan selamat bergabung yang baru saja singgah, terima kasih yang selalu  setia datang kembali untuk membaca. Seperti biasa laporan kali ini masih seputar tentang giat laporan bacaan terkait tugas mata kuliah Magang 1, yang diampu oleh Ibu dosen Farninda Aditya, M.Pd. selaku dosen di Institut IAIN Pontianak, Kalimantan Barat.

Materi yang akan di ulas kali ini yaitu mengenai “Silabus”. Dalam laporan bolg kali ini tentunya akan kita rangkum  apa itu silabus?  Apa fungsi dan prinsip dalam silabus? Ayo kita simak penjelasan berikut yang pastinya bersumber berdasarkan rujukan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Silahkan membaca dengan seksama dan tak lupa membaca Basmallah. 
Happy Reading... 


Pengertian Silabus

Silabus merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis yang memuat komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar.

Silabus menjadi peran penting bagi guru. Dikarenakan menjadi sebuah perangkat pembelajaran yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Secara sistem disusun secara terstuktur dan sistematis serta memuat komponen-komponen penting dalam pengusaan materi dasar.

Menurut Trianto (2010: 96), silabus merupakan sebuah perangkat dari sekelompok materi pelajaran yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, pencapaian kompetensi penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajaran. Kunandar (2011: 244) juga menyampaikan hal yang sama, sebuah perangkat rencana dalam pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang memuat komponen-komponen dalam kegiatan belajar-mengajar.

Silabus dapat juga diartikan sebagai penjabaran kompetensi inti dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.

Fungsi Silabus

  1. Dapat digunakan sebagai suatu pedoman dalam pengembangan pembelajaran, yang diantaranya ialah sebagai pembuatan rencana atau planning pengelolaan pembelajaran baik itu konvensional maupun per kelompok tertentu serta sebagai penyusun materi ajar. 
  2. Dapat digunakan sebagai suatu sumber pokok dalam upaya penyusunan rencana pembelajaran. 
  3. Dapat digunakan sebagai alat yang berfungsi untuk aktualisasi kurikulum secara operasional pada satuan tingkat pendidikan tertentu sehingga dapat memudahkan guru dalam melakukan tugas pembelajaran. 

Dalam pembuatan silabus, Kunandar (2011: 264) berpendapat mengenai fungsi antara lain:

1.      Alat untuk mengetahui tercapai-tidaknya tujuan instruksional.

2.      Umpan balik bagi perbaikan proses belajar-mengajar.

3.      Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tuanya.

Komponen Silabus

Ada beberapa komponen yang harus ada di dalam silabus. Antara lain sebagai berikut:

1. Identitas Mata Pelajaran

Identitas mata pelajaran berupa nama pelajaran yang diampu oleh guru.

2. Identitas Sekolah

Identitas sekolah memuat nama satuan pendidikan serta kelas yang akan diampu oleh guru.

3. Kompetensi Inti (KI)

Kompetensi inti merupakan percapaian standar kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan terkait mata pelajaran yang diperoleh peserta didik.

4. Kompetensi Dasar (KD)

Hampir sama dengan kompetensi inti, hanya saja berdasarkan kemampuan spesifik dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

5. Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator pencapaian kompetensi merupakan perilaku peserta didik yang diukur atau diamati. Hasil pengukuran akan menunjukkan pencapaian kompetensi dasar tertentu dalam penilaian mata pelajaran.

6. Materi Pokok

Materi pokok merupakan materi yang telah diatur oleh pendidikan Indonesia yang ditulis dalam butir-butir sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi.  Materi pokok berisi fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan dengan kondisi kelas.

7. Pembelajaran

Pembelajaran ada proses kegiatan di dalam kelas. Pelaku dalam pembelajaran adalah guru dan peserta didik. Proses pembelajaran diupayakan untuk penentuan pencapaian kompetensi yang diharapkan.

8. Penilaian

Penilaian merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.

9. Alokasi Waktu

Alokasi waktu diatur seperti jumlah jam pelajaran untuk satu semester.

10. Sumber Belajar

Sumber belajar adalah sekumpulan buku, media cetak, dan elektrok atau sumber belajar lainnya sebagai penunjang guru di proses belajar mengajar.

Manfaat

  1. Bermanfaat sebagai suatu hal yang vital yakni menjadi sumber pedoman atau acuan dalam rangka penyusunan RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. 
  2. Bermanfaat bagi guru dalam hal memetakan ragam variasi pembelajaran yang hendak dituangkan dalam RPP atau Rencana Pelasanaan Pembelajaran tersebut. 
  3. Bermanfaat bagi guru untuk mempermudah pemetaan seluruh indikator pencapaian belajar yang mana seharusnya dicapai oleh siswa.
  4. Bermanfaat bagi guru guna mempermudah perancangan bentuk-bentuk penilaian dari setiap indikator yang hendak dicapai. 

Prinsip Penyusunan

1. Prinsip ilmiah 

Prinsip ilmiah yang dimaksud ialah keseluruhan materi maupun kegiatan yang dapat menjadi muatan dalam silabus harus dipastikan benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. 

2. Prinsip relevan

Prinsip relevan ialah prinsip yang berfokus kepada cakupan, kedalaman, tingkat kesulitan serta urutan penyajian dari silaby yang mana berkesesuian dengan suatu tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, pritual dan emosional dari peserta didik.

3. Prinsip sistematis

Yang dimaksud dengan prinsip sistematis ialah suatu prinsip dari silaby yang mana komponen-komponen penyusun silaby harus senantiasa saling berhubungan satu sama lainnya yakni secara fungsional dalam upaya mencapai kompetensi. 

4. Prinsip konsistensi 

Prinsip konsistensi ialah adanya hubungan yang bisa dikatakan konsisten antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar serta sistem penialaian pembelajaran tersebut.

5. Prinsip kecukupan 

Yang dimaksud dengan prinsip kecukupan ialah mencakup keseluruhan komponen silaby yakni indikator, materi pokok, pengalaman pembelajaran, sumber belajar maupun sistem penilaian yang mana kesemuanya dirasa cukup guna menunjang suatu pencapaian kompetensi dasar. 

6. Prinsip aktual dan konseptual 

Prinsip aktual dan konseptual ialah suatu prinsip yang mencakup keseluruhan komponen silaby yaitu indikator, materi pokok, sumber belajar, pengalaman pembelajaran maupun sistem penilaian yang mana memperhatikan atau berkesesuaian dengan perkembangan ilmu, teknologi maupun seni muakhir dalam kehidupan nyata maupun sesuai dengan peristiwa yang terjadi. 

7. Prinsip fleksibel 

Yang dapat dimaknai dari prinsip fleksibel ialah suatu prinsip yang memuat keseluruhan komponen silaby serta dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik itu sendiri serta segala dinamika perubahan yang terjadi di dalam sekolah maupun tuntutan dari masyarakat sekitar.

8. Prinsip menyeluruh 

Prinsip menyeluruh adalah suatu prinsip yang mana komponen-komponen silaby (termasuk silabus K13) tersebut mencakup keseluruhan ranah kompetensi baik itu psikomotorik, afektif maupun kognitif atau berkesesuaian dengan esensi atau inti dari mata pelajaran masing-masing. 

Langkah-langkah Pengembangan Silabus

1. Mengkaji Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji KI dan KD sebagai berikut.

  • Urutan KI dan KD berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan  materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di Standar Isi.
  • Keterkaitan antara kompetensi inti dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran.
  • Keterkaitan antara kompetensi inti dan kompetensi dasar antar mata  pelajaran.

2. Mengidentifikasi materi pokok pelajaran

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi materi pokok untuk pencapaian kompetensi dasar adalah sebagai berikut.

  • Potensi peserta didik.
  • Relevansi dengan karakteristik daerah, tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik.
  • Kebermanfaatan bagi peserta didik.
  • Struktur keilmuan.
  • Sktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran.
  • Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan.
  • Alokasi waktu.

3. Mengembangkan Kegiatan

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

  • Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
  • Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
  • Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
  • Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Dasar

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

5. Menentukan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator yang sudah ditetapkan.

Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian adalah sebagai berikut.

  • Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
  • Penilaian menggunakan acuan kriteria, yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
  • Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.
  • Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensi di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
  • Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan, maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses), contohnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

6. Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.

Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

7. Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar merupakan rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

Demikian ulasan mengenai pengertian silabus, fungsi, komponen, dan prinsip pengembangannya.  Semoga dengan adanya penjelasan diatas,  dapat menambah khazanah serta ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Jazakumullah Khairan Katsiran

 

Referensi:

Silabus 25/06/2021 Oleh Muhammad Reza Furqoni

Pengertian Silabus, Fungsi, Komponen, dan Prinsip PengembangannyaPosted on 5 Agustus 2019Author.

https://www.amongguru.com/pengertian-silabus-fungsi-komponen-dan-prinsip-pengembangannya/


Senin, 28 Juni 2021

Laporan Bacaan 9

 Assalamu'alaikum Warahmatullah Hiwabarakatuh

Selamat datang dan selamat bergabung yang baru saja singgah, terima kasih yang selalu  setia datang kembali untuk membaca. Seperti biasa laporan kali ini masih seputar tentang giat laporan bacaan terkait tugas mata kuliah Magang 1, yang diampu oleh Ibu dosen Farninda Aditya, M.Pd. selaku dosen di Institut IAIN Pontianak, Kalimantan Barat.

Materi yang akan di ulas kali ini yaitu mengenai “Sistem Evaluasi”. Dalam laporan bolg kali ini tentunya akan kita rangkum  apa itu sistem evaluasi?  Apa fungsi dan prinsip dalam evaluasi? Ayo kita simak penjelasan berikut yang pastinya bersumber berdasarkan rujukan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Silahkan membaca dengan seksama dan tak lupa membaca Basmallah. 
Happy Reading... 

 

 “Sistem Evaluasi“



1. Landasan Teoritis Evaluasi Pembelajaran

Menganalisa tentang konsep evaluasi dalam dunia pembelajaran secara niscaya akan dihadapkan kepada beberapa perspektif bangunan pemikiran yang diberikan oleh para ahli. Meskipun secara eksistensial paradigmatik probabilitas dari pemikiran tersebut beraneka ragam, namun tinjauan pemikirannya niscaya mengarah kepada kesatuan orientasi pemikiran demi tegaknya perumusan tentang kurikulum itu sendiri.

Rusman (2012: 114-119) dalam penjelasannya tentang evaluasi menegaskan bahwa terdapat empat rumus deskriptif yang bisa dijadikan pijakan dalam rumusan evaluasi. Adapun keempat rumusan tersebut, pertama; measurement. Konsep measurement dalam evaluasi pembelajaran menunjuk kepada penekanan penting atas objektivitas dalam proses evaluasi. Aspek objektivitas yang ditekankan oleh konsep ini perlu dijadikan landasan yang terus-menerus di dalam rangka mengembangkan konsep dan sistem evaluasi kurikulum. Di samping itu, pendekatan yang digunakan oleh konsep ini masih sangat besar pengaruhnya dan diraskan faedahnya dalam berbagai kegiatan pendidikan, seperti seleksi dan klasifikasi siswa, pemberian nilai di sekolah, dan kegiatan penelitian pendidikan.

Pengertian Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi pembelajaran adalah proses untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan dalam menentukan sejauh mana dan bagaimana pembelajaran yang telah berjalan agar dapat membuat penilaian (judgement) dan perbaikan yang dibutuhkan untuk memaksimalkan hasilnya.

Definisi di atas didasari oleh pendapat Mahrens & Lehmann (1978 dalam Purwnto, 2013, hlm. 3) yang menyatakan bahwa evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.

Istilah evaluasi pembelajaran sering disamaartikan dengan ujian. Meskipun sangat berkaitan, akan tetapi tidak mencakup keseluruhan makna evaluasi pembelajaran yang sebenarnya. Ujian atau tes hanyalah salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk menjalankan proses evaluasi.

Beberapa Istilah Evaluasi Pendidikan

Untuk menghindari berbagai mispersepsi yang biasa terjadi dalam evaluasi, berikut adalah pengertian istilah atau terminologi yang biasa digunakan dalam evaluasi dan pengukuran, meliputi: tes, pengukuran (measurement), evaluasi, dan asesmen (assesment) menurut Mohrens (1984 dalam Asrul dkk, 2015, hlm. 3).

  1. Tes,
    adalah istilah yang paling sempit pengertiannya dari keempat istilah lainnya, yaitu membuat dan mengajukan sejumlah pertanyaan yang harus dijawab. Sebagai hasil jawabannya diperoleh sebuah ukuran (nilai angka) dari seseorang.
  2. Pengukuran,
    pengertiannya menjadi lebih luas, yakni dengan menggunakan observasi skala rating atau alat lain yang membuat kita dapat memperoleh informasi dalam bentuk kuantitas. Juga berarti pengukuran dengan berdasarkan pada skor yang diperoleh.
  3. Evaluasi,
    adalah proses penggambaran dan penyempurnaan informasi yang berguna untuk menetapkan alternatif. Evaluasi bisa mencakup arti tes dan pengukuran dan bisa juga berarti di luar keduanya. Hasil Evaluasi bisa memberi keputusan yang profesional. Seseorang dapat mengevaluasi baik dengan data kuantitatif maupun kualitatif.
  4. Asesmen, bisa digunakan untuk memberikan diagnosa terhadap problema seseorang. Dalam pengertian ia adalah sinonim dengan evaluasi. Namun yang perlu ditekankan di sini bahwa yang dapat dinilai atau dievaluasi adalah karakter dari seseorang, termasuk kemampuan akademik, kejujuran, kemampuan untuk mengejar, dsb.

Pengertian Evaluasi Pembelajaran Menurut Para Ahli

Arikunto

Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan dapat tercapai (Arikunto, 2016, hlm. 3).

Rina Febriana

Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi, dalam menilai (assessment) keputusan yang dibuat untuk merancang suatu sistem pembelajaran  (Febriana, 2019, hlm. 1).

Zainal Arifin

Menurut Arifin (2017, hlm. 2) evaluasi adalah suatu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran.

Ralph Tyler

Tyler dalam Arikunto (2016, hlm. 3) mendefinisikan bahwa evaluasi pembelajaran merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menemukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai.

Norman E. Gronlund

Menurut Gronlund (1976) dalam (Purwanto, 2013, hlm. 3) evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa.

Wringth

Wringht dkk berpendapat evaluasi pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum (Wringth dkk dalam Purwanto, 2013, hlm. 3).

Kedudukan Evaluasi Dalam Pembelajaran

Lalu apa dan bagaimana sebetulnya kedudukan evaluasi dalam pembelajaran? Untuk mengetahuinya, kita dapat merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 57 ayat 1 yang menyatakan bahwa “evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak berkepentingan, di antaranya terhadap peserta didik, lembaga dan program pendidikan”.

Sehingga kedudukan evaluasi pendidikan mencakup semua komponen, proses pelaksanaan dan produk pendidikan secara total, dan di dalamnya setidaknya terakomodir tiga konsep, yakni: memberikan pertimbangan (judgement), nilai (value), dan arti (worth).

Tujuan Penilaian Hasil Belajar

Tujuan dari penilaian hasil belajar tentunya sama bersinggungan dengan tujuan evaluasi belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan. Evaluasi merupakan faktor penting yang menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sangat penting untuk benar-benar mengetahui tujuan evaluasi, agar hal yang ingin dicapai dalam proses evaluasi dapat terjadi. Tujuan evaluasi hasil belajar menurut Arifin (2017, hlm. 15) adalah sebagai berikut.

  1. Mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi yang telah diberikan.
  2. Mengetahui kecakapan, motivasi, bakat, minat dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran.
  3. Mengetahui tingkat kemajuan dan kesesuaian hasil belajar peserta didik dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
  4. Mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
  5. Seleksi, yaitu memilih dan menentukan peserta didik yang sesuai dengan jenis pendidikan tertentu.
  6. Menentukan kenaikan kelas.
  7. Menempatkan peserta didik sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Tujuan Evaluasi Pembelajaran

Selain itu, tujuan evaluasi dalam pembelajaran menurut  Nana Sudjana (2017, hlm. 4) adalah sebagai berikut.

  1. Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya.
  2. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.
  3. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya.
  4. Memberikan pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Fungsi Evaluasi Pembelajaran

Selain berbagai tujuan di atas, pentingnya evaluasi dalam pembelajaran dapat dilihat dari fungsi atau kegunaan yang dimilikinya. Menurut Arifin (2017, hlm. 15) fungsi atau kegunaan yang dimiliki oleh evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut.

  1. Fungsi formatif,
    yakni untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran dan mengadakan program remedial jika diperlukan bagi peserta didik.
  2. Fungsi sumatif,
    yaitu menentukan nilai kemajuan atau hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran tertentu, sebagai bahan untuk memberikan laporan kepada berbagai pihak, penentuan kenaikan kelas, dan penentuan lulus tidaknya peserta didik.
  3. Fungsi diagnostik,
    yakni untuk memahami latar belakang meliputi latar psikologis, fisik, dan lingkungan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan-kesulitan tersebut.
  4. Fungsi penempatan,
    yaitu menempatkan peserta didik dalam situasi pembelajaran yang tepat (misalnya dalam menentukan program spesialisasi) sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.

Sementara itu fungsi evaluasi menurut Sudjana (2017, hlm. 3) dikelompokkan menjadi tiga fungsi, yakni sebagai berikut.

  1. Alat untuk mengetahui tercapai-tidaknya tujuan instruksional.
  2. Umpan balik bagi perbaikan proses belajar-mengajar.
  3. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tuanya.

Prinsip Evaluasi

Dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan pasal 5, dijelaskan bahwa prinsip evaluasi atau penilaian hasil belajar antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Sahih, yang berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.
  2. Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
  3. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
  4. Terpadu, berarti penilaian merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
  5. Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
  6. Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau dan menilai perkembangan kemampuan peserta didik.
  7. Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
  8. Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
  9. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segimekanisme, prosedur, teknik, teknik, maupun hasilnya.

 

Pendekatan Evaluasi Pembelajaran

Dilihat dari komponen pembelajaran, pendekatan evaluasi dapat dibagi dua, yaitu pendekatan tradisional dan pendekatan sistem.

Pendekatan Tradisional

Menurut Arifin (2017, hlm. 85-86) pendekatan evaluasi tradisional berorientasi pada praktik evaluasi yang telah berjalan selama ini di sekolah yang ditujukan pada perkembangan aspek intelektual peserta didik. Aspek-aspek keterampilan dan pengembangan sikap kurang mendapatkan perhatian yang serius.

Dengan kata lain, peserta didik hanya dituntut untuk menguasai mata pelajaran. Kegiatan-kegiatan evaluasi juga lebih difokuskan pada komponen produk saja, sementara komponen proses cenderung diabaikan. Hasil kajian Spencer cukup memberikan gambaran betapa pentingnya evaluasi pembelajaran.

Pendekatan Sistem

Evaluasi pendekatan sistem adalah evaluasi yang dilakukan melalui sistem atau totalitas dari berbagai komponen yang saling berhubungan dan ketergantungan. Komponen evaluasi yang dimaksud meliputi komponen kebutuhan dan feasibility, komponen input, komponen proses, dan komponen produk  (Arifin, 2017, hlm. 86).

Stuffebeam menyingkatnya sebagai CIPP, yakni context, input, process, product. Komponen-komponen ini harus menjadi landasan pertimbangan dalam evaluasi pembelajaran secara sistematis. Berbeda dengan pendekatan tradisional yang hanya menyentuh komponen produk saja.

Mudahnya pendekatan ini tidak hanya mempertimbangkan penilaian kognitif atau penguasaan mata pelajaran saja. Namun melibatkan seluruh komponen yang ada, misalnya keaktifan, afeksi, karakter, atau berbagai komponen lain yang dibutuhkan dalam suatu pembelajaran.

Jenis Evaluasi dalam Pembelajaran

Membicarakan jenis evaluasi sebetulnya sangatlah bergantung dari pembeda atau dikotomi apa yang digunakan dalam membedakan jenisnya. Namun, pada umumnya evaluasi dalam pembelajaran biasa dibagi dari segi teknik terlebih dahulu. Kemudian, masing-masing teknik akan memiliki penilaian dan alat penilaian yang berbeda pula.

Menurut (Arikunto, 2016, hlm. 41) Teknik evaluasi dibagi menjadi dua, yakni teknik tes dan teknik non-tes. Berikut adalah penjelasannya.

Evaluasi Tes

Tes merupakan suatu alat pengumpul informasi, tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat yang lain, tes bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasanbatasan. Tes mempunyai fungsi ganda, yaitu untuk mengukur peserta didik dan untuk mengukur keberhasilan program pengajaran.

Menurut Heaton (dalam Arifin, 2017, hlm. 118) membagi tes menjadi empat bagian, yakni tes prestasi belajar, tes penguasaan, tes bakat, dan tes diagnostik. Untuk melengkapi pembagian jenis tes tersebut, Brown menambahkan satu jenis tes lagi yang disebut tes penempatan. Masing-masing penjelasan mengenai jenis tes tersebut sama saja dengan penjelasan fungsi evaluasi yang telah dijelaskan sebelumnya di atas.

Evaluasi jenis tes sendiri dapat dibagi setidaknya menjadi dua jenis, yakni: tes uraian (esai), dan tes objektif. Berikut adalah pemaparannya.

Tes Bentuk Uraian (Esai)

Disebut bentuk uraian, karena menuntut peserta didik untuk menguraikan, mengorganisasikan dan menyatakan jawaban dengan kata-katanya sendiri dalam bentuk, teknik, dan gaya yang berbeda satu dengan lainnya. Dilihat dari luas atau sempitnya materi yang dinyatakan, bentuk tes uraian dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni sebagai berikut.

Uraian Terbatas

Dalam menjawab soal bentuk uraian terbatas ini, peserta didik harus mengemukakan hal-hal tertentu sebagai batas-batasnya. Walaupun kalimat jawaban peserta didik itu beraneka ragam, tetap harus ada pokok-pokok penting yang terdapat dalam sistematika jawabannya sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan dan dikehendaki dalam soalnya.

Uraian Bebas

Peserta didik bebas untuk menjawab soal dengan cara dan sistematika sendiri. Peserta didik bebas mengemukakan pendapat sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, setiap peserta didik mempunyai cara dan sistematika yang berbeda-beda. Namun, guru tetap harus mempunyai acuan dan patokan dalam mengoreksi jawaban peserta didik nanti.

Tes Objektif

Tes objektif adalah pengukuran yang berdasarkan pada penilaian atas kemampuan siswa dengan soal menjelaskan jawaban yang benar atau yang salah soal dengan bobot nilai yang tetap. Dalam tes ini subjektivitas guru ketika melakukan pemberian nilai tidak ikut ambil bagian atau ikut berpengaruh. Terdapat beragam macam tes objektif meliputi beberapa jenis di bawah ini.

  1. Tes Pilihan Alternatif
    Bentuk tes pilihan alternatif ditandai oleh butir soal yang diikuti oleh dua penilaian. Dari dua pilihan siswa diminta memilih salah satu yang dianggap paling tepat.
  2. Tes Pilihan Ganda
    Tes jenis pilihan ganda adalah suatu bentuk tes dengan jawaban tersedia atas 3 atau 4 serta option pilihannya dan hanya satu jawaban yang tepat.
  3. Tes Objektif Menjodohkan
    Soal bentuk menjodohkan atau memasangkan terdiri dari suatu premis, suatu daftar kemungkinan jawaban, dan suatu petunjuk untuk menjodohkan masing-masing premis itu dengan suatu kemungkinan jawaban. Biasanya nama, tanggal/tahun, istilah, frase, pernyataan, bagian dari diagram, dan sejenisnya digunakan sebagai premis.
  4. Tes Bentuk Benar atau Salah
    Benar Tes benar salah ditekankan mengandung atau tidaknya kebenaran dalam pernyataan yang hendak dinilai peserta didik. Peseta didik menjawab dengan menetapkan apakah pernyataan yang disajikan itu salah atau benar dalam arti mengandung atau tidak mengandung kebenaran.

Demikian laporan terkait Perangkat Pembelajaran. Semoga dengan adanya penjelasan diatas,  dapat menambah khazanah serta ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Jazakumullah Khairan Katsiran

Terima kasih banyak atas kunjungannya…

 

Referensi:

BLOG. H.Ma'mun Zahrudin.Jumat, 26 Februari 2016 Evaluasi Pembelajaran.

Evaluasi Sistem Pembelajaran.Wahyuning Widiyastuti. Vol. 9, No. 2, Agustus 2014

 

Senin, 21 Juni 2021

Laporan Bacaan 8

Assalamu'alaikum Warahmatullah Hiwabarakatuh

Selamat datang dan selamat bergabung yang baru saja singgah, terima kasih yang selalu  setia datang kembali untuk membaca. Seperti biasa laporan kali ini masih seputar tentang giat laporan bacaan terkait tugas mata kuliah Magang 1, yang diampu oleh Ibu dosen Farninda Aditya, M.Pd. selaku dosen di Institut IAIN Pontianak, Kalimantan Barat.

Materi yang akan di ulas kali ini yaitu mengenai “Strategi Pembelajaran”. Dalam laporan bolg kali ini tentunya akan kita rangkum  apa itu strategi pembelajaran?  Apa saja jenis-jenis strategi pembelajaran? Ayo kita simak penjelasan berikut yang pastinya dengan sumber rujukan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Silahkan membaca dengan seksama dan tak lupa membaca Basmallah. 
Happy Reading... 

 

“Strategi Pembelajaran”

 
                 

Pengertian Strategi Pembelajaran

Cropper (1998)

Pengertian strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. la menegaskan bahwa setiap tingkah laku yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus dapat dipraktikkan.

Egger Kauchak dan Harder

Strategi pembelajaran menurut Kauchak dan Harder adalah jenis-jenis metode mengajar yang khusus direncanakan untuk mencapai tujuan khusus.

Dari beberapa pendapat di atas mengenai strategi pembelajaran maka dapat disimpulkan bahwa, strategi belajar mengajar adalah taktik kegiatan guru secara terprogram dalam pembelajaran, untuk menjadikan siswa belajar secara aktif dan memahami apa yang diajarkan, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar yang terarah secara maksimal serta merubah tingkah laku peserta didik dan menciptakan relasi yang bersifat mendidik, sehingga peserta didik mampu berkembang secara optimal.

Jenis-Jenis Strategi Pmebelajaran

  • 1.      Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE),
  • 2.      Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI).
  • 3.      Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM).
  • 4.    Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB),
  • 5.      Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK).
  • 6.      Strategi Pembelajaran Kontekstual (CTL) dan
  • 7.      Strategi Pembelajaran Afektif (SPA) 


Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa . Strategi pembelajaran ini juga sering dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa yunani, yaitu heurisken yang berarti saya menemukan.(wina sandjaya;196)

Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri.

Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri.

Keunggulan dan Kelemahan SPI

1. Keunggulan : SPI merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan oleh karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
a. SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
b. SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
c. SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d. SPI dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata – rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.

2. Kelemahan
Disamping memiliki keunggulan, SPI juga mempunyai kelemahan diantaranya :
a. Jika SPI digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c. Kadang – kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga guru mengalami kesulitan untuk menyesuaikan waktu .
d. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.

II . Strategi Pembelajaran Afektif (SPA )

1. Merupakan suatu metode dalam proses pembelajaran yang menekankan pada nilai dan sikap yang diukur, oleh karena itu menyangkut kesadaran seorang yang tumbuh dari dalam .
2. Strategi pembelajaran afektif adalah strategi yang bukan hanya bertujuan untuk mencapai pendidikan kognitif saja, akan tetapi juga bertujuan untuk mencapai dimensi yang lainnya.

Oleh karena itu pada hakekatnya strategi pembelajaran afektif proses penamaan nilai-nilai yang positif pada peserta didik, yang diharapkan pada peserta didik tersebut mampu berbuat dan mempunyai pandangan yang dianggap tidak baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku artinya disini bahwa dalam strategi ini dituntut kesadaran dan kemauan bagi peserta didik untuk bisa mempunyai kepribadian baik, berprilaku yang sopan dan bretindak sesuai dengan norma yang telah ditetapkan.

Hakekat Pendidikan Nilai Dan Sikap
Sikap afektif erat kaitannya dengan nilai yang dimiliki seseorang, sikap merupakan refleksi dari nilai yang dimiliki seseorang. Oleh karenanya pendidikan sikap pada dasarnya adalah pendidikan nilai. Nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran yang sifatnya tersembunyi, tidak berada dalam dunia empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, indah dan tidak indah, dan lain sebagainya. Pandangan seseorang tentang semua itu tidak bisa diraba, kita mungkin dapat mrngetahui dari prilaku yang bersangkutan, oleh karena itulah nilai pada dasarnya standar prilaku, ukuran yang menentukan atau kriteria seseorang tentang baik dan tidak baik, sehingga standar itu akan mewarnai prilaku seseorang.
Douglas graham (gulo, 2003) melihat empat faktor yang merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu, yaitu:
a. Normatifizh adalah kepatuhan kepada norma-norma hokum
b. Integralist adalah kepatuhan yang didasarkan kepada kesadaran dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasional
c. Fenomenalist adalah kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar basa-basi
d. Hedonist adalah kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri
Dari keempat faktor yang menjadi dasar kepatuhan setiap individu tentu saja yang kita harapkan adalah kepatuhan yang bersifat normatifist sebab kepatuhan semacam itu adalah kepatuhan yang didasari kesadaran yang akan dinilai, tanpa mempedulikan apakah prilaku itu menguntungkan untuk dirinya atau tidak.

Kesulitan Dalam Pembelajaran Efektif
Selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku, cenderung diarahkan untuk membentuk intelektual, akibatnya upaya yang dilakukan oleh seorang guru diarahkan kepada bagaimana anak dapat menguasai pengetahuan sesuai dengan standar isi kurikulum yang berlaku, oleh karena kemampuan intelektual identik dengan penguasaan materi pelajaran.
Sulitnya melakukan control karena banyaknya factor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang, pengembangan kemampuan sikap baik melalui proses pembiasaan maupun model bukan hanya ditentukan oleh factor guru, akan tetapi terutama dari factor lingkungan.
Keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera, berbeda dengan pengembangan aspek kognitif, dan aspek keterampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah pembelajaran berakhir, maka keberhasilan dari pembentukan sikap baru dapat dilihat dari rentang waktu yang cukup panjang.
Pengaruh kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka program acara, berdampak pada pembentukan karakter anak.

III. SPE (Strategi Pembelajaran Ekspositori )

Strategi Pembelajaran Ekspositori ( SPE ) , Konsep dan Prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Ekspositori Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.

Strategi Pembelajaranb ekspositori akan efektif apabila :
- Guru akan menyampaikan bahan-bahan baru serta kaitannya dengan yang akan dan harus dipelajari siswa.
- Apabila guru menginginkan agar siswa mempunyai gaya model intelektual tertentu,misalnya agar siswa bisa mengingat bahan pelajaran,sehingga ia akan dapat mengungangkapkannya kembali manakala diperlukan.
- Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan cocok untuk dipresentasikan,artinya dipandang dari sifat dan jenis materi pelajaran memang materi itu hanya mungkin dapat dipahami oleh siswa manakala disampaikan oleh guru,misalnya materi pelajaran hasil penelitian berupa data-data khusus.
- Jika ingin membangkitkan keingintahuan siswa tentang topic tertentu.
- Guru menginginkan untuk mendemonstrasikan suatu teknik atau prosedur,biasanya merupakan suatu teknik atau prosedur tertentu untuk kegiatan praktik.
- Apabila seluruh siswa memiliki tingkat kesulitan yang sama sehingga guru perlu menjelaskan untuk seluruh siswa.
- Apabila guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemampuan rendah.
- Jika ligkungan tidak mendukung untuk menggunakan strategi yang berpusat pada siswa,misalnya tidak adanya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
- Jika tidak memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.

Keunggulan dan Kelemahan Strategi Ekspositori

Keunggulan
a. Dengan strategi ekspositori,guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran.
b. Dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa sangat luas,sementara waktu yang disediakan cukup terbatas.
c. Selain siswa dapat mendengar melalui penuturan ,siswa juga bisa melihat atau mengobservasi. d. Bisa digunakan untuk jumlah dan ukuran kelas yang besar.

Kelemahan
a. Hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiiki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
b.Tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan,pengetahuan,minat dan bakat serta perbedaan gaya belajar.
c. Karena lebih banyak disampaikan melalui ceramah,maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam sosialisasi,serta kemampuan berpikir kritis
d. Keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada persiapan guru , baik persiapan , pengetahuan ,semangat , antusiasme , motivasi dan berbagai kemampuan yang lain.
e. Karena lebih banyak satu arah,maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan terbatas pula.

VI . Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM).

SPBM Dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara alamiah. Terdapat tiga ciri utama dari SPBM.


1. SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinyadalam implementasi pembelajaran SPBM ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. SPBM tidak mengaharapkan siswa hanya mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetpi melalui SPBM siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. SPBM menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa maslah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara alamiah. Yaitu proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini disecara sistematis dan empiris.
Untuk mengimplementasikan SPBM,


Menurut Arends (Nurhayati Abbas, 2000:4) , penerapan model pembelajaran berbasis masalah terdiri dari lima langkah. Kelima langkah itu adalah
(1) mengorientasikan siswa pada masalah;
(2) mengorganisasikan siswa untuk belajar;
(3) memandu menyelidiki secara mandiri atau kelompok;
(4) mengembangkan dan menyajikan hasil kerja; dan
(5) menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah.

Keungulan dan Kelemahan serta Manfaat SPBM

1. Keunggulan Sebagai sesuatu strategi pembelajaran, SPBM memiliki beberapa keunggulan, di antara.
a. Pemecahan masalah (Problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b. Pemecahan masalah (Problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan bagi siswa.
c. Pemecahan masalah (Problem solving) Dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d. Pemecahan masalah (Problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e. Pemecahan masalah (Problem solving) dapat membantu siswa untuk dapat mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping itu, pemecahan malah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
f. Pemecahan masalah (Problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran, pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari buku atau dari buku-buku saja.
g. Pemecahan masalah (Problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
h. Pemecahan masalah (Problem solving) dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasi pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
i. Pemecahan masalah (Problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
j. Realistis dengan kehidupan siswa.
k. Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa.
l. Memupuk sifat inquiri siswa.
m. Retensi konsep jadi kuat.

Manfaat

Manfaat dari pembelajaran berbasis masalah adalah membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah. Dengan pembelajaran berbasis masalah ini siswa berusaha berpikir kritis dan mampu mengembangkan kemampuan analisisnya serta menjadi pembelajar yang mandiri. Pembelajaran berbasis masalah memberikan dorongan kepada peserta didik untuk tidak hanya sekedar berpikir sesuai yang bersifat konkret tetapi lebih dari itu berpikir terhadap ide-ide yang abstrak dan kompleks.

Kelemahan
a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui (problem solving) membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang ingin mereka pelajari.
d. Membutuhkan persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks.
e. Sulitnya mencari problem yang relevan.
f. Sering terjadi miss-konsepsi.

V . Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir ( SPPKB )

SPPKB,merupakan model pembelajaran yang bertumpu pada proses perbaikan dan peningkatan kemampuan berpikir siswa. SPPKB bukan hanya sekedar model pembelajaran yang diarahkan agar peserta didik dapat mengingat dan memahami berbagai data,fakta atau konsep,akan tetapi bagaimana bagaimana data,data,fakta dan konsep tersebut dapat dijadikan sebagai alat untuk melatih kemampuan berpikir siswa dalam menghadapi dan memecahkan masalah.
Karakteristik SPPKB Sebagai strategi pembelajaran yang diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir,SPPKB memiliki tiga karakteristik:


1. Proses pembelajaran melalui SPPKB menekankan kepada proses mental siswa secara maksimal.SPPKB bukan model pembelajaran yang hanya menuntut siswa sekedar mendengar dan mencatat,tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berpikir.
2. SPPKB dibangun dalam nuansa dialogis dan proses tanya jawab secara terus menerus.Proses pembelajaran melalui dialog dan tanya jawab itu diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa,yang pada gilirannya kemampuan berpikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri.
3. SPPKB adalah model pembelajaran yang menyandarkan kepada dua sisi proses dan hasil belajar.Proses belajar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir , sedangkan sisi hasil belajar diarahkan untuk mengkontruksi pengetahuan atau penguasaan materi pembelajaran baru.
Tahapan-tahapan Pembelajaran SPPKB SPPKB menekankan kepada keterlibatan siswa secara penuh dalam belajar.Hal ini sesuai dengan hakikat SPPKB yang tidak mengharapkan siswa sebagai obyek belajar yang hanya duduk mendengarkan penjelasan guru,kemudian mencatat yang berhubungan dengan penguasaan materi pelajaran dan mencatat untuk dihafalkan.
Ada 6 tahap dalam SPPKB,sebagai berikut :


1. Tahap orientasi Pada tahap ini guru mengondisikan siswa pada posisi siap untuk melakukan pembelajaran .Tahap orientasi dilakukan dengan,pertama penjelasan tujuan yang harus dicapai, baik tujuan yang berhubungan dengan penguasaan materi pelajaran ,maupun tujuan yang berhubungan dengan proses pembelajaran atau kemampuan berpikir yang harus dimiliki oleh siswa.Kedua,penjelasan proses pembelajaran yang harus dilakukan siswa dalam setiap tahapan proses pembelajaran.
2. Tahap Pelacakan Tahap pelacakan adalah,tahapan penjajakan untuk memahami pengalaman dan kemampuan dasar siswa sesuai dengan tema atau pokok persoalan yang akan dibicarakan.Melalui tahapan inilah guru mengembangkan dialog dan tanya jawab untuk mengungkap pengalaman apa saja yang telah dimiliki siswa yang dianggap relevan dengan tema yang akan dikaji.Dengan berbekal pemahaman itulah selanjutnya guru menentukan bagaimana ia harus mengembangkan dialog dan tanya jawab pada tahapan-tahapan selanjutnya.
3. Tahap Konfrontasi Tahap konfrontasi,adalah tahapan penyajian persoalan yang harus dipecahkan sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa.Untuk merangsang peningkatan kemampuan siswa pada tahapan ini,guru dapat memberikan persoalan-persoalan yang dilematis yang memerlukan jawaban atau jalan keluar.Persoalan yang diberikan sesuai dengan tema atau topic itu tentu saja persoalan yang sesuai dengan kemampuan dasar atau pengalaman siswa.Pada tahap ini guru harus dapat mengembangkan dialog agar siswa benar-benar memahami persoalan yang harus dipecahkan.
4. Tahap inkuiri Tahap inkuiri adalah tahapan terpenting dalam SPPKB.Pada tahap inilah siswa belajar berpikir yang sesungguhnya.Melalui tahapan inkuiri siswa diajak untuk memecahkan persoalan yang dihadapi.Oleh sebab itu guru harus memberikan ruang dan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan gagasan dalam upaya penecahan persoalan.
5. Tahap Akomodasi Tahap akomodasi adalah tahapan pembentukan pengetahuan baru melalui proses penyimpulan.Pada tahap ini siswa dituntut untuk dapat menemukan kata-kata kunci sesuai dengan topic atau tema pembelajaran.Pada tahap ini melalui dialog guru membimbing agar siswa dapat menyimpulkan apa yang mereka temukan dan mereka pahami sekitar topic yang dipermasalahkan.
6. Tahap Transfer Tahap transfer adalah tahapan penyajian masalah baru yang sepadan dengan masalah yang disajikan.Tahap transfer dimaksudkan agar agar siswa mampu menstransfer kemampuan berpikir setiap siswa,untuk memecahkan masalah-masalahbaru.Pada tahap ini guru memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan topic pembahasan.

VI. Strategi Pembelajaran Kooperatif ( SPK )

Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam SPK, yaitu :
1. Adanya peserta dalam kelompok
2. Adanya aturan kelompok
3. Adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, dan
4. Adanya tujuan yang harus dicapai.

Strategi pembelajaran ini bisa digunakan manakala:
1. Guru menekankan pentingnya usaha kolektif disamping usaha individual dalam belajar.
2. Jika guru menghendaki seluruh siswa (bukan hanya siswa yang pintar saja) untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar.
3. Jika guru ingin menanamkan, bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya, dan belajar dari bantuan orang lain.
4. Jika guru menghendaki untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum.
5. Jika guru menghendaki meningkatkan motivasi siswa dan menambahkan tingkat partisipasi mereka.
6. Jika guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah menemukan berbagai solusi pemecahan.


Keunggulan dan Kelemahan SPK

1. Keunggulan SPK : Keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran di antaranya:
a.Melalui SPK siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa lain.
b.SPK dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
c.SPK dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
d.SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
e.SPK merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.
f.Melalaui SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berparktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
g.SPK dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).
h.Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.

2. Kelemahan SPK , Disamping keunggulan, SPK juga memiliki kelemahan, diantaranya:
a. Untuk memahami dan mengerti filosofis SPK memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat cooperative learning. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, contohnya, meraka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengganggu iklm kerja sama dalam kelompok.
b. Ciri utama dari SPK adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa peer teaching yang efektif, maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.
c. Penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
d. Keberhasilan SPK dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang, dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-kali penerapan strategi ini.
e. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan individual. Oleh karena itu idealnya melalui SPK selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal itu dalam SPK memang bukan pekerjaan yang mudah.
http://sorayadwikartika.blogspot.com/2013/11/strategi-pembelajaran-kooperatif.html

VII. Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)


Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sistem pembelajaran yang cocok dengan kinerja otak, untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna, dengan cara menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal ini penting diterapkan agar informasi yang diterima tidak hanya disimpan dalam memori jangka pendek, yang mudah dilupakan, tetapi dapat disimpan dalam memori jangka panjang sehingga akan dihayati dan diterapkan dalam tugas pekerjaan.

Kelebihan
1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.

Kelemahan
1. Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.

 

Demikian laporan terkait Perangkat Pembelajaran. Semoga dengan adanya penjelasan diatas,  dapat menambah khazanah serta ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Jazakumullah Khairan Katsiran

Terima kasih banyak atas kunjungannya…


Referensi:

Laporan Bacaan 10

Assalamu'alaikum Warahmatullah Hiwabarakatuh Selamat datang dan selamat bergabung yang baru saja singgah, terima kasih yang selalu   s...